Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

HAKIKAT PEMBANGUNAN KELAUTAN DAN PERIKANAN NASIONAL

HAKIKAT PEMBANGUNAN KELAUTAN DAN PERIKANAN NASIONAL

Agar sumber daya alam bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, maka tak ada jalan lain kecuali mengimplementasikan prinsip tiga pilar yaitu:
  1. kedaulatan,
  2. keberlanjutan,
  3. dan kesejahteraan.

Tiga pilar inilah yang menjadi misi Susi Pudjiastuti tatkala dirinya didapuk sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan. Kabinet Kerja, guna mewujudkan visi yang dicanangkan Presiden Joko Widodo yakni laut sebagai masa depan bangsa. Seperti sektor-sektor lainnya, sektor perikanan Indonesia selama berpuluh-puluh tahun juga tidak dikelola secara berdaulat, tidak berkelanjutan, dan tidak mensejahterakan.
Jika kondisi ini dibiarkan, International Union for Conservation of Nature memproyeksikan potensi tangkapan ikan di perairan Indonesia akan anjlok hingga 40 persen pada tahun 2050. Bahkan, berdasarkan kajian UCSB dan Balitbang Kelautan dan Perikanan, jika eksploitasi berlebihan terus dibiarkan, biomassa ikan di perairan nusantara akan anjlok hingga 81 persen pada tahun 2035.
Kapal-kapal asing dan eks asing juga menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan sehingga merusak ekosistem dan mengancam kelestarian stok ikan.
Penangkapan ikan secara ilegal, tidak dilaporkan, dan tidak diatur (Illegal, unreported, unregulated/IUU Fishing) memenuhi perairan Indonesia, menginjak-injak kedaulatan dan mengabaikan kelestarian.
Laut yang seharusnya menjadi sumber kesejahteraan nelayan lokal, makin lama tak bisa lagi diandalkan sebagai mata pencaharian. Tangkapan nelayan lokal terus menurun akibat tak mampu bersaing dengan kapal-kapal besar milik asing. Ikan pun seolah hilang seiring rusaknya ekosistem dan terumbu karang.
Berdasarkan survei BPS periode 2003 - 2013, jumlah rumah tangga nelayan turun dari 1,6 juta menjadi hanya sekitar 800.000. Selain itu, sebanyak 115 perusahaan pengolahan ikan nasional gulung tikar akibat tak mendapat pasokan ikan mengingat kapal-kapal illegal fishing langsung membawa ikan curiannya ke luar negeri.
Untuk mewujudkan misi kedaulatan, keberlanjutan, dan kesejahteraan, tentu saja IUU Fishing, overfishing, dan penangkapan yang merusak (destructive fishing) harus diberantas.
KKP pun merumuskan secara matang dan komprehensif kebijakan reformasi total sektor perikanan termasuk target-target pencapaiannya.
Sebagai langkah awal pemberantasan IUU Fishing, KKP menerbitkan Permen KP nomor 56 tahun 2014 tentang moratorium izin untuk kapal eks asing. Kapal eks asing merupakan kapal yang awalnya dimiliki asing atau kapal yang diimpor dari negara lain yang kemudian benderanya diganti dengan bendera Indonesia sehingga menjadi kapal nasional.
Kebijakan moratorium ini sebagai pintu masuk pemerintah untuk melakukan analisis dan evaluasi (anev) terhadap 1.605 kapal eks asing.
Hasil anev menunjukkan seluruh kapal eks asing yang beroperasi di Indonesia terbukti melakukan illegal fishing mulai dari penggandaan izin, menggunakan alat tangkap trawl, tidak membayar pajak, hingga perbudakan, dan penyelundupan.
KKP juga menerbitkan Permen KP no 57/2014 tentang larangan alih muat (transshipment) di tengah laut. Kebijakan ini dikeluarkan lantaran transshipment banyak disalahgunakan dengan langsung membawa hasil tangkapan ikan ke luar negeri tanpa dilaporkan ke otoritas setempat. Sejak transshipment dilarang, pasokan ikan ke industri pengolahan di sejumlah negara turun drastis.
Ini membuktikan bahwa sebagian besar pasokan ikan ke negara-negara tetangga merupakan hasil illegal fishing dari perairan Indonesia.
Selain menerbitkan aturan, KKP juga melakukan strategi lain untuk memberantas illegal fishing. Dengan dukungan penuh Presiden Jokowi, KKP menegakkan hukum secara tegas di laut termasuk menenggelamkan kapal-kapal ikan asing yang kedapatan melakukan illegal fishing. Pembakaran dan penenggelaman kapal illegal fishing asing bukanlah kebijakan baru karena praktik itu telah diatur dalam pasal 69 ayat 4 UU no 45/2009 tentang perikanan.
Menteri Susi mengumpulkan para duta besar negara-negara tetangga yang nelayannya banyak melakukan illegal fishing di Indonesia.
Negara-negara itu antara lain Malaysia, Thailand, Vietnam, Filipina, dan China.
Menteri Susi meminta mereka untuk memberitahu para nelayan di negaranya masing-masing agar tak lagi melakukan illegalfishing di perairan Indonesia. Sebab, Indonesia kini akan menegakkan hukum secara tegas dan tak ragu-ragu menenggelamkan kapal ikan yang terbukti melanggar hukum.
Di dalam negeri, Menteri Susi meminta aparat dan birokrat tak lagi melindungi kapalkapal illegal fishing. Pengusaha-pengusaha perikanan nasional juga diingatkan agar tak lagi melakukan illegal fishing kecuali jika ingin kapalnya ditenggelamkan dan pelakunya dipidanakan.
Untuk mendukung misi KKP, Presiden Jokowi kemudian mengesahkan Perpres No. 115 Tahun 2015 tentang Satuan Tugas Pemberantasan Penangkapan Ikan secara Ilegal (Illegal Fishing) pada tanggal 19 Oktober 2015 guna mendukung upaya peningkatan penegakan hukum terhadap pelanggaran dan kejahatan di bidang perikanan khususnya penangkapan ikan secara ilegal secara terpadu.
Satuan tugas tersebut dikenal dengan nama “Satgas 115”. Satgas 115 merupakan penyelenggara penegakan hukum satu atap (one roof enforcement system), yang terdiri atas unsur TNI AL, Polri, BAKAMLA dan Kejaksaan Republik Indonesia, sehingga memudahkan koordinasi, mendorong sinergi dan melaksanakan fungsi fasilitasi dalam memberantas illegal fishing untuk mencapai penegakan hukum yang adil dan memberikan efek jera.
Satgas 115 berada di bawah Presiden dengan Menteri Kelautan dan Perikanan sebagai Komandan Satgas. Hingga kini sudah 317 kapal illegal fishing ditenggelamkan Satgas 115. KKP meyakini penenggelaman kapal merupakan kebijakan yang efektif untuk memberantas illegal fishing. Selama armada kapal pengawas perikanan masih kurang, maka cara yang efektif untuk memagari perairan kita dari pencurian ikan adalah menegakkan hukum secara tegas sehingga bisa memberikan efek jera dan efek gentar kepada para pelaku illegal fishing. Kebijakan penenggelaman kapal yang dilakukan pemerintah Indonesia pun bergema ke seluruh dunia. Para pelaku illegal fishing tak lagi bebas mencuri ikan di perairan Indonesia.
Untuk menutup rapat-rapat kapal asing dan eks asing beroperasi kembali di perairan Indonesia, KKP kemudian mengusulkan larangan investasi asing pada usaha perikanan tangkap. Presiden Jokowi kemudian menerbitkan Perpres 44/2016 tentang daftar negatif investasi asing dengan usaha penangkapan ikan dinyatakan tertutup untuk asing. Dengan kata lain, modal usaha penangkapan ikan 100 persen harus berasal dari dalam negeri. Sebaliknya, untuk menarik masuk investasi, asing diperbolehkan berinvestasi hingga 100 persen pada usaha pengolahan ikan. Dengan rangkaian kebijakan tersebut, sektor perikanan Indonesia pun menjadi berdaulat dan berkelanjutan. Tegaknya pilar kedaulatan dan keberlanjutan otomatis akan melahirkan pilar kesejahteraan.

Pemberantasan IUU Fishing telah membuat produksi perikanan tangkap laut nasional melonjak drastis selama semester I 2017. Selama periode tersebut, hasil tangkapan laut mencapai 3,35 juta ton, naik 11,3 persen dibandingkan periode sama tahun 2016 yang sebesar 3,01 juta ton, berdasarkan data dari Pusat Data Statistik dan Informasi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Seiring melonjaknya produksi ikan yang ditangkap, kesejahteraan nelayan pun kian meningkat. Hal itu terlihat dari indikator nilai tukar nelayan (NTN) maupun nilai tukar usaha nelayan (NTUN) yang terus membaik secara signifikan. Meningkatnya produksi tangkapan laut yang tercatat dari nelayan-nelayan nasional pun akan menguntungkan keuangan negara baik berupa pajak maupun penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Pemberantasan IUU Fishing tidak hanya menguntungkan negara dari segi penerimaan pajak dan PNBP, tapi juga menyelamatkan uang negara triliunan rupiah dari bbm bersubsidi yang banyak dipakai kapal illegal fishing.
Pemberantasan IUU Fishing juga membuat stok tangkapan ikan lestari (maximum suistainable yield/MSY) meningkat drastis dari 7,31 ton per tahun pada 2013 menjadi 12,54 juta ton saat ini.


Untuk mewujudkan pilar kedaulatan, keberlanjutan, dan kesejahteraan, KKP tak hanya memberantas IUU Fishing, overfishing, dan destructive fishing. KKP juga merekonstruksi kembali sistem perikanan tangkap yang cocok diterapkan di Indonesia. KKP menilai lautlaut di Indonesia berada di antara pulau-pulau sehingga cenderung sempit dan dangkal. Karena itu, merupakan hal yang salah kaprah jika kapal-kapal ikan berukuran besar diizinkan menangkap ikan di perairan Indonesia. Jika kapal-kapal besar diperbolehkan, maka dalam waktu singkat, ikan di perairan Indonesia akan habis. Kapal-kapal besar hanya cocok digunakan untuk menangkap ikan di laut lepas (high sea) yang luas dan dalam, seperti yang dipraktikkan beberapa negara seperti Jepang, China, dan Spanyol. Indonesia tak perlu memiliki kapal-kapal besar untuk berburu ikan hingga ke laut lepas karena di pesisir pun ikan tak akan pernah habis sepanjang penangkapannya tidak berlebih dan merusak. Jadi sistem perikanan tangkap yang cocok untuk Indonesia adalah perikanan pesisir dengan dominasi para nelayan yang menggunakan kapal-kapal kecil. Kapal-kapal ikan berukuran sedang tetap diperlukan namun harus dibatasi jumlahnya. Konsep tersebut diyakini akan melestarikan stok ikan sehingga kekayaan laut bisa diwariskan ke anak cucu. Optimalisasi pemanfaatan sumber daya ikan bukanlah dengan menangkap ikan sebanyak-banyaknya dengan kapal-kapal besar. Optimalisasi adalah bagaimana agar tangkapan nelayan tetap terjaga kualitasnya dan bisa menggerakkan ekonomi di daerah bersangkutan. Dengan demikian, industri perikanan tak hanya dikuasai segelintir pengusaha, namun dapat digeluti oleh siapa saja yang ingin berkecimpung dalam bisnis perikanan.


Untuk mengoptimalkan dan mendorong industri perikanan, KKP pun membuat program Sentra Kelautan Perikanan Terpadu (SKPT) dan sistem logistik ikan. SKPT merupakan pembangunan pulau-pulau kecil dan kawasan perbatasan dengan sektor kelautan dan perikanan sebagai penggerak utamanya. Tak hanya mendorong industri perikanan di pulau-pulau kecil, konsep SKPT juga merupakan upaya membangun Indonesia dari pinggiran seperti yang termaktub dalam Nawacita serta menjadikan daerah-daerah terluar sebagai beranda depan Indonesia.


Konsep SKPT adalah mengintegrasikan rantai nilai bisnis perikanan dalam satu lokasi. Dengan demikian, tahapan mulai dari pendaratan ikan, pengolahan ikan, hingga pemasarannya dapat dilakukan secara efektif dan efisien. SKPT menyediakan seluruh sarana dan prasarana bisnis perikanan seperti pelabuhan ikan, tempat pelelangan ikan, coldstorage, tempat perbaikan kapal, penyediaan bbm dan es, karantina untuk ekspor hingga tempat penginapan untuk nelayan.
Konsep SKPT juga bertujuan menciptakan sistem logistik ikan yang lebih efisien karena dekat dengan pasar ekspor. Dalam hal ini, daerah SKPT akan langsung menjadi pintu gerbang (gateway) untuk ekspor. Dengan berbagai pertimbangan tersebut, ditetapkanlah 12 pulau terluar sebagai SKPT, yakni Natuna, Saumlaki, Merauke, Mentawai, Nunukan, Talaud, Morotai, Biak Numfor, Mimika, Rote Ndao, Sumba Timur, dan Sabang. Dari Saumlaki misalnya, ikan bisa langsung diekspor ke Darwin Australia, yang dengan pesawat hanya memakan waktu kurang dari 1 jam. Ini lebih efisien ketimbang ikan dibawa dulu ke Jakarta atau Surabaya baru kemudian diekspor atau dijual untuk kebutuhan domestik Adapun dari Natuna, ikan bisa langsung diekspor ke Hongkong, sementara dari Morotai atau Biak, ikan langsung diekspor ke Jepang melalui Palau. Ekspor hasil perikanan dari SKPT ke negara terdekat diharapkan akan menjadi “sirip” yang menggerakkan perekonomian di wilayah-wilayah perbatasan.



BERSIHKAN CERMINMU.

BERSIHKAN CERMINMU.


BERSIHKAN CERMINMU.
Jika kita mempunyai cermin yang kotor, maka cermin itu tidak bisa kita gunakan untuk mengaca/bercermin, karena wujud kita dicermin tidak muncul secara jernih dan jelas, yang muncul wajah kita menjadi buram dan tidak jelas. Untuk itu cermin itu harus kita bersihkan sampai semua noda dan kotoran debunya menjadi hilang. Jika sudah bersih, maka cermin itu bisa kita gunakan untuk mengaca.
Begitu juga hati kita yang kotor karena dosa dan kotoran jiwa, maka membuat hati itu menjadi kotor dan hitam. Suara hati nurani dan wujud sejatidiri tidak bisa kita dengarkan dan tidak bisa kita lihat, karena tertutup kotoran.
Jika hati kita bersihkan dengan latihan-latihan disiplin ruhani, maka hati kita kan menjadi jernih dan bening, sehingga suara hatinurani/sejatidiri sangat jelas ketika membimbing diri kita, begitu juga wujud dari hakekat jiwa kita yaitu sejatidiri akan muncul jelas dan lebih bercahaya dari wujud fisik kita.
Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, beliau berkata, “Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, "Siapakah orang yang paling utama?"
Beliau menjawab, “Setiap orang yang bersih hatinya dan benar ucapannya”’
Para sahabat berkata, “Orang yang benar ucapannya telah kami pahami maksudnya. Lantas apakah yang dimaksud dengan orang yang bersih hatinya?”
Rasulullah Saw. menjawab,”‘Dia adalah orang yang bertakwa (takut) kepada Allah, yang suci hatinya, tidak ada dosa dan kedurhakaan di dalamnya serta tidak ada pula dendam dan hasad.'” (Hr. Ibnu Maja)

Oleh: CAHAYA GUSTI

TEKNOLOGI PENANGKAPAN IKAN BERWAWASAN LINGKUNGAN

TEKNOLOGI PENANGKAPAN IKAN BERWAWASAN LINGKUNGAN

TEKNOLOGI PENANGKAPAN IKAN BERWAWASAN LINGKUNGAN
Kerusakan atau degradasi lingkungan laut dapat terjadi setiap saat, baik oleh  faktor-faktor alami seperti bencana alam atau proses sedimentasi atau karena eksploitasi sumberdaya laut yang tidak rasional.  Pemantauan secara kontinu terhadap suatu lingkungan sangatlah penting untuk dilakukan, supaya perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan tersebut dapat diketahui dengan pasti.  Suatu daerah penangkapan yang berpotensi sekalipun, akan menurun produktifitasnya bila terjadi banyak tekanan negatif terhadapnya.

  Daerah penangkapan yang demikian ini memerlukan pengelolaan yang tepat dan benar untuk mempertahankan kelangsungan sumberdaya alam yang terkandung di dalamnya.

Pemanfaatan sumberdaya perikanan dengan melakukan upaya eksploitasi menghadapi kendala yang dilematis karena di satu sisi manusia berusaha untuk menjaga lingkungan perairan dari kerusakan dan ketersediaan sumberdayanya, di sisi lainnya manusia berupaya untuk mengentaskan kemiskinan untuk mencapai kesejahteraan dengan memanfaatkan sumberdaya perikanan yang tersedia tersebut.  Permasalahan ini hanya dapat diatasi jika mereka memiliki kemampuan untuk memanfaatkan sumberdaya  perikanan dengan memadukan kemampuan tersebut dengan pendidikan, pengalaman, adanya akses modal, penguasaan teknologi, serta dukungan pasar dengan turut memikirkan/mempertimbangkan aspek keberlanjutan.

Pemanfaatan sumberdaya perikanan ini akan berhasil bila dilakukan pada tingkat yang optimum sebab apabila dilakukan pada tingkat yang maksimum, ketersediaan sumberdaya ini akan lenyap begitu saja. Pemanfaatan sumberdaya perikanan pada tingkat yang maksimum mengandung makna bahwa sumberdaya perikanan yang ada sekarang ini dimanfaatkan sebaik mungkin oleh generasi sekarang bagi kesejahteraan generasi tersebut.  Bila dimanfaatkan pada tingkat yang optimum, mengandung makna bahwa pemanfaatan sumberdaya yang memberikan kepuasan pada generasi sekarang tanpa mengurangi kepuasan yang akan dinikmati generasi berikutnya.  

Hal ini disebabkan karena sumberdaya laut dan pesisir sangat rentan dan sensitif terhadap banyak perubahan. Khusus untuk sumberdaya ikan, kerentanan dan sensitifitasnya semakin tinggi karena merupakan sumberdaya hayati yang banyak dipengaruhi perubahan-perubahan eksternal dan internal, yaitu perubahan yang terjadi di dalam maupun di luar ekosistem dan dapat juga berupa perubahan yang terjadi di sekitar atau tempat yang jauh letaknya dari ekosistem atau perubahan yang langsung atau tidak langsung berkenaan dengan ekosistem, serta perubahan lingkungan biotik maupun abiotik (Nikijuluw, 2002).

Manusia merupakan variabel penting yang menentukan status pemanfaatan dan potensi sumberdaya perikanan, namun masih belum mendapatkan perhatian serius dalam hal pengelolaan sumberdaya perikanan. Pengelolaan sumberdaya perikanan pada hakekadnya merupakan pengelolaan terhadap manusia yang memanfaatkan sumberdaya tersebut yakni pengaturan tingkah laku mereka dalam hal memanfaatkan dan mengelola sumberdaya tersebut.  Alasan ini dikemukaan karena kenyataan yang ditunjukan secara rasional dan obyektif, membuktikan adanya kecenderungan persediaan ikan makin berkurang.


Produksi tangkapan ikan laut di Indonesia pada tahun 1999 telah mencapai 3,68 juta ton atau sekitar 60 % dari perkiraan MSY sekitar 6,1 juta ton, artinya masih berada di bawah potensi sumberdaya yang dimungkinkan dimanfaatkan.  Bila mengacu pada Total Allowable Catch (TAC) yang diperkirakan 5 juta ton, maka pada akhir tahun 1999 sumberdaya ikan laut di Indonesia telah dimanfaatkan sekitar 74 % dari potensi yang tersedia. 

Potensi dan jumlah tangkapan yang diperbolehkan serta peluang pengembangannya di Laut Maluku dan sekitarnya dapat dilihat pada Tabel berikut ini.
Tabel 1. Potensi dan jumlah tangkapan yang diperbolehkan di Laut Maluku dan sekitarnya.
Jenis Ikan

Potensi

(Ribuan Ton/Tahun)
JTB
(Ribuan Ton/Tahun)
Peluang Pengembangan

Skala Usaha

Alat tangkap
Pelagis Kecil
378,8
303,0

Skala Menengah ke Bawah
Gillnet, Long Line, Pole and Line, Trammel Net, Pancing
Pelagis Besar
106,6
85,3
Demersal
83,8
67,0
Udang
1,2
0,9
Ikan Lainnya
16,6
13,3
Sumber : Program Peningkatan Ekspor Perikanan (Protekan) 2003, Dirjen Perikanan, DKP dalam Naskah Akademik PWP (2001)


Dari Tabel di atas, dapat diketahui bahwa peluang pengembangan usaha penangkapan ikan yang direkomendasikan oleh Dirjen Perikanan, Departemen Kelautan dan Perikanan di Laut Maluku dan sekitarnya adalah berupa usaha penangkapan berskala menengah ke bawah.





Daerah Penangkapan Ikan

Daerah Penangkapan Ikan

Mengenal Daerah Penangkapan Ikan
1. Karakteristik Daerah Penangkapan Ikan
Kondisi-kondisi yang perlu dijadikan acuan dalam menentukan daerah penangkapan ikan adalah sebagai berikut :
a)Daerah tersebut harus memiliki kondisi dimana ikan dengan mudahnya datang bersama-sama dalam kelompoknya, dan tempat yang baik untuk dijadikan habitat ikan tersebut. Kepadatan dari distribusi ikan tersebut berubah menurut musim, khususnya pada ikan pelagis. Daerah yang sesuai untuk habitat ikan, oleh karena itu, secara alamiah diketahui sebagai daerah penangkapan ikan. Kondisi yang diperlukan sebagai daerah penangkapan ikan harus dimungkinkan dengan lingkungan yang sesuai untuk kehidupan dan habitat ikan, dan juga melimpahnya makanan untuk ikan. Tetapi ikan dapat dengan bebas memilih tempat tinggal dengan kehendak mereka sendiri menurut keadaan dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat. Oleh karena itu, jika mereka tinggal untuk waktu yang agak lebih panjang pada suatu tempat tertentu, tempat tersebut akan menjadi daerah penangkapan ikan.


(vicon) 2018

b)Daerah tersebut harus merupakan tempat dimana mudah menggunakan peralatan penangkapan ikan bagi nelayan. Umumnya perairan pantai yang bisa menjadi daerah penagkapan ikan memiliki kaitan dengan kelimpahan makanan untuk ikan. Tetapi terkadang pada perairan tersebut susah untuk dilakukan pengoperasian alat tangkap, khususnya peralatan jaring karena keberadaan kerumunan bebatuan dan karang koral walaupun itu sangat berpotensi menjadi pelabuhan. Terkadang tempat tersebut memiliki arus yang menghanyutkan dan perbedaan pasang surut yang besar. Pada tempat tersebut para nelayan sedemikian perlu memperhatikan untuk menghiraukan mengoperasikan alat tangkap. Terkadang mereka menggunakan trap nets, gill nets dan peralatan memancing ikan sebagai ganti peralatan jaring seperti jaring trawl dan purse seine.

Sebaliknya, daerah penangkapan lepas pantai tidak mempunyai kondisi seperti itu, tapi keadaan menyedihkan datang dari cuaca yang buruk dan ombak yang tinggi. Para nelayan juga harus mengatasi kondisi buruk ini dengan efektif menggunakan peralatan menangkap ikan.

c) Daerah tersebut harus bertempat di lokasi yang bernilai ekonomis.
Ini sangat alamiah di mana manajemen akan berdiri atau jatuh pada keseimbangan antara jumlah investasi dan pemasukan. Anggaran dasar yang mencakup pada investasi sebagian besar dibagi menjadi dua komponen, yakni modal tetap seperti peralatan penangkapan ikan dan kapal perikanan, dan modal tidak tetap seperti gaji pegawai, konsumsi bahan bakar dan biaya perbekalan. Para manajer perikanan harus membuat keuntungan pada setiap operasi. Jika daerah penagkapan tersebut terlalu jauh dari pelabuhan, itu akan memerlukan bahan bakar yang banyak. Jika usaha perikanan tersebut benar-benar memiliki harapan yang besar, usaha yang dijalankan mungkin boleh pergi ke tempat yang lebih jauh. Nelayan yang dalam kasus demikian dapat memperoleh keuntungan dengan manajemen usaha perikanan. Jika kita dapat membuat alat untuk meningkatkan efisiensi usaha perikanan seperti menggunakan mesin perikanan yang lebih efisien, kemudian kita dapat juga memperbesar kapasitas kita untuk menangkap ikan ke tempat yang lebih jauh.

Daerah penangkapan ikan juga dikontrol oleh permintaan pasar untuk ikan. Permintaan untuk produk ikan akan dipengaruhi oleh kapasitas ketersediaan dari tempat tersebut, sebagai contoh, adalah baru saja dikembangkan sebagai daerah penangkapan ikan. Jadi, daerah penangkapan ikan selalu memiliki nilai yang relatif, berhubungan dengan keseimbangan ekonomi, daerah penangkapan ikan lainnya, efisiensi usaha perikanan dan permintaan ikan di dalam pasar. Begitulah, harus selalu berusaha menemukan daerah penangkapan ikan yang ekonomis dan efektif dari metode penangkapan ikan yang dimodernisasi.

2. Pemilihan Daerah Penangkapan Ikan
Hal pertama yang harus kita ketahui tentang keberadaan daerah penangkapan ikan menurut spesis ikan dan dari musim. Pemilihan daerah penangkapan ikan akan dibahas dengan sesuai pemahaman dari efisiensi, keuntungan dan ekonomi usaha perikanan. Metode pemilihan akan dibahas sebagai berikut :
a) Asumsi awal tentang area lingkungan yang cukup sesuai dengan tingkah laku ikan yang diarahkan dengan menggunakan data riset oseanografi dan meteorologi.
b) Asumsi awal tentang musim dan daerah penangkapan ikan, dari pengalaman menangkap ikan yang lampau yang dikumpulkan ke dalam arsip kegiatan penangkapan ikan masa lampau.
c) Pemilihan daerah penangkapan ikan yang bernilai ekonomis dengan mempertimbangkan dengan seksama jarak dari pangkalan, kepadatan gerombolan ikan, kondisi meteorologi, dan lain sebagainya.

3. Karakter Permukaan Dasar
Secara umum keadaan permukaan dasar mempunyai karakter yang ditunjukkan pada tabel kelautan. Sedimen lautan sendiri terdiri dari sedimen terrigeneous, hemi-pelagis dan sedimen pelagis.
Tingkah Laku Ikan Hubungannya dengan Daerah Penangkapan Ikan dan Jenis-jenis dari Daerah Penangkapan Ikan
1. Tingkah Laku Ikan dan Kondisi dari Daerah penangkapan Ikan Tidak dapat dikatakan bahwa ikan hidup dimana saja di seluruh lautan. Menurut spesiesnya, ikan didistribusikan secara horizontal atau vertikal di pada daerah batasan tertentu. Daerah penangkapan ikan juga berbeda menurut garis lintang dan garis bujur seperti kedalaman air di mana ikan berada.
Alasan utama kenapa spesies ikan tertentu berkumpul di daerah tertentu diperkirakan jadi seperti berikut :
a) Ikan memilih kehidupan lingkungan yang sesuai untuk spesiesnya.
b) Mereka memburu sumber makanan yang berlimpah.
c) Mereka mencari tempat yang sesuai untuk memijah dan berkembang biak.

Dituntun oleh instingnya dan terbawa oleh arus musiman, ikan bergerak sesuai temperatur perairan, mencari makanan dan tempat memijah di perairan tersebut. Pergerakan ini disebut migrasi, dan pengalaman migrasi mereka selalu lebih baik sepanjang tahun. Migrasi yang untuk mencari makanan disebut food-seeking ground (pencarian daerah makanan). Kemudian migrasi untuk memijah disebut spawning migration dan area perairan dimana mereka memijah disebut spawning ground (daerah bertelur/memijah). Selama mereka bermigrasi dan dalam pencarian makanan dan daerah memijah, ikan tersebut bergerombol bersama dalam kelompok yang padat. Tempat tersebut yang penuh sesak dengan ikan secara alamiah menjadi daerah penangkapan ikan yang bagus untuk nelayan. Peristiwa dari gerombolan ikan haring di awal musim semi adalah satu contoh yang bagus dari migrasi ikan untuk mencari tempat memijah.

Di samping jenis ikan tersebut diatas di mana terjadi migrasi yang besar, ada spesies ikan lainnya di mana telah tertentu pada suatu daerah terbatas di lautan. Radius pergerakan mereka terbatas. Jenis utama dari pergerakan mereka adalah secara vertikal, yang dimana, mereka berpindah antara dasar dan permukaan air pada siang hari atau malam hari. Ada juga beberapa spesies yang berpindah antara perairan pantai yang dangkal dan perairan lepas pantai yang dalam sepanjang musim. Jenis pergerakan ini disebut secara horizontal atau perpindahan kedalaman. Ikan yan tinggal menetap terus-menerus juga menjadikan daerah penangkapan ikan yang bagus untuk nelayan.

Variasi kondisi dari laut memberi dampak perubahan pada daerah penangkapan ikan. Lautan dipengaruhi oleh arus hangat dan arus dingin. Ikan memilih masing-masing perairan tempat tinggal mereka menurut kisaran temperatur optimum mereka. Pada continental shelf yang mana adalah daerah subur yang terdapat aliran nutrisi garam dari daratan pantai adalah suatu daerah penangkapan ikan yang baik untuk ikan yang menetap terus-menerus. Jumlah plankton yang besar berkembang pada pusaran yang terbentuk oleh arus atau bentuk konvergen dari arus dingin dan arus hangat. Organisme ini menarik bagi makhluk hidup secara umum, khususnya ikan yang berkumpul bersama pada titik daerah pencarian makanan mereka. Tempat seperti itu juga disebut daerah penangkapan ikan yang bagus. Area selanjutnya di mana dasar lautan naik menjorok dan membentuk apa yang disebut sea bank (gugus laut) juga sesuai untuk daerah penangkapan ikan.

Kebanyakan gugus laut berada lebih dangkal dibandingkan 400 meter pada kedalaman. Asal usul gugus laut dibagi menjadi dua: vulkanik dan tektonik. Berbicara secara umum, bentuk dari kehidupan pada gugus laut adalah lebih berlimpah dan bervariasi daripada di continental shelf. Banyaknya perpindahan dan ikan demersal yang ditemukan di gugus laut membuatnya jadi suatu daerah penangkapan ikan yang bagus. Pengetahuan tentang oseanografi seperti itu akan bermanfaat ke arah peningkatan produksi perikanan.

2. Jenis-jenis dari Daerah Penangkapan Ikan
Klasifikasi daerah penangkapan ikan sering dibuat berdasarkan materi sebagai jenis ikan yang akan ditangkap, jenis dari alat tangkap yang digunakan, daerah perairan di mana usaha perikanan dioperasikan dan area lautan di mana usaha perikanan beroperasi :
a) Spesies dari ikan: tuna dan skipjack fishing ground, salmon fishing ground, dan sebagainya.
b) Jenis alat tangkap ikan: trawl fishing ground, long line fishing ground, fixed-net fishing ground, pole and line fishing ground, surrounding-net (jaring lingkar) fishing ground, dan sebagainya.
c) Kawasan perairan: daerah penangkapan dalam laut atau permukaan, daerah penangkapan yang dekat dengan pantai, daerah penangkapan pantai dan daerah penangkapan pada perairan darat.
d) Kawasan laut: daerah penangkapan di Pasifik Utara, daerah penangkapan di Laut China Selatan, daerah penangkapan di China Bagian Tenggara, dan lain sebagainya.

Tetapi daerah daerah penangkapan ikan secara umum diklasifikasikan ke dalam dua jenis utama berikut: daerah penangkapan ikan di perairan pantai dan di laut lepas, atau daerah penangkapan ikan pelagis (atau bergerak cepat) dan ikan perairan dasar secara berturut-turut.

1. Daerah penangkapan ikan di perairan pantai Pada keadaan normal, pesisir pantai memiliki banyak daerah penangkapan ikan yang bagus. Produksi perikanan dari daerah ini dengan baik meningkat dari tahun ke tahun. Daerah penangkapan ikan di perairan pantai termasuk meliputi usaha rumput laut, ikan dan kerang-kerangan dan untuk jenis yang khusus bergerak seperti ikan haring, ikan salmon, ikan ekor kuning, ikan tuna dan ikan laut air tawar yang mendekati daerah pantai untuk mencari makanan atau untuk memijah.

Daerah penangkapan ikan di perairan pantai ini mungkin dibagi lagi ke dalam trap-net (jaring perangkap) fishing ground, small trawling (pukat tarik yang kecil) fishing ground, driving in net fishing ground, beach seine (pukat pantai) fishing ground, hand purse seine (purse seine tangan) fishing ground, surrounding net (jaring lingkar) fishing ground, pole and line fishing ground, dan lain sebagainya.

Untuk tujuan konservasi sumberdaya perikanan di pesisir perairan pantai dan menjaga mutu dari daerah penangkapan ikan, ukuran harus diambil di sepanjang garis pembangunan pada pembatas di laut, penangkaran buatan dan melepaskan anak ikan lalu menjaganya. Ini juga sangat penting untuk pemeliharaan dan pembangunan dari nilai mutu dari daerah penangkapan ikan, untuk menghasilkan pemahaman dan kerja sama dari nelayan untuk konservasi sumberdaya perikanan sama halnya sesuai pengambilan keputusan dan manajemen dari administrasi perikanan.

2. Daerah penangkapan ikan pelagis
Salah satu contoh ikan pelagis di Lautan Pasifik adalah ikan skipjack. Daerah penangkapan untuk ikan skipjack utamanya berlokasi pada lapisan subtropis yang konvergen yang dibentuk oleh pertemuan aliran arus hangat dan arus dingin. Spesies ikan lainnya yang bermigrasi, di kedua jenis arus hangat dan dingin, seperti ikan tuna dan ikan salmon, secara musiman naik menuju utara atau turun ke selatan untuk mencari makanan di dalam pusaran air atau arus rip yang dibentuk oleh pertemuan dua aliran arus.

Lebih lanjut, bentuk topografi yang rumit pada pantai dan perairan sampai kedalaman 200 meter di mana arus dasar laut naik keatas dan bercampur dengan massa air hangat pada bagian atas, menghasilkan plankton dalam jumlah yang sangat besar yang dimana mengundang ikan untuk bermigrasi dan menetap di sana. Area migrasi ikan skipjack, tuna dan salmon di Pasifik adalah sangat luas dan hampir tak terhingga dari bagian atas garis katulistiwa hingga ke perairan daerah utara.
Tapi hal itu harus diperhatikan bahwa daerah penangkapan ikan yang sesuai untuk spesies ikan pelagis adalah hampir terbatas pada daerah arus rip di perairan tersebut.

3. Daerah penangkapan ikan demersal
Pada continental shelf (paparan benua) di mana umumnya terdapat pada kedalaman 200 m adalah sangat sesuai untuk ikan demersal atau yang hidup di dekat dasar laut. Kolom perairan yang kedalamnya lebih dari 400 m adalah sangat tidak sesuai untuk ikan, kecuali beberapa spesies yang khusus. Makhluk hidup pada dasar laut termasuk yang selalu tinggal di satu tempat, meliputi pergerakan secara horizontal atau pada kedalaman dan pergerakan menuju daerah dangkal, atau secara musiman membuat suatu migrasi yang panjang.

Pada continental shelf dimana terdapat pasir atau berbagai bahan organik lain yang mengalir dari perairan pantai lalu mengendap, sebagian besar menjadi pupuk dan sesuai untuk pertumbuhan plankton. Oleh karena manfaat dari daerah paparan (shelf), pada daerah pesisir pantai atau pintu masuk perairan adalah daerah penangkapan yang ideal untuk kerang-kerangan dan rumput laut, khususnya ikan-ikan kecil. Ketika melakukan penangkapan ikan, jaring yang tarik di dasar perairan (bottom drag nets) adalah yang paling sering digunakan. Beberapa spesies ikan pelagis mungkin tertangkap di perairan tersebut.

Tapi kolom perairan yang lebih dari kedalaman 800 meter, meskipun ada ditemukan beberapa spesies ikan, sangat tidak sesuai untuk digunakan sebagai daerah penangkapan ikan bukan hanya karena kesulitan dalam operasi penangkapan ikan tetapi juga jarangnya terdapatsumberdaya perikanan.

3. Exploitasi Daerah Penangkapan ikan dan Pemeliharaannya
Dengan mulai ditingkatkannya konstruksi kapal perikanan menjadi berukuran besar, modernisasi pada peralatannya dan pengenalan pada peningkatan peralatan observasi untuk keperluan penangkapan ikan, luas dari daerah penangkapan ikan semakin diperbesar.

Adalah menjadi hal vital yang sangat penting demi pengembangan daerah penangkapan ikan dengan persiapan melalui kapal perikanan yang sempurna dan dengan kru kapal yang terlatih dengan baik, bersama dengan seluruh ilmu pengetahuan praktis dan pengetahuan oseanografi dan ilmu tentang sumberdaya perikanan yang ditambah dengan studi berbagai faktor penilaian dan pengamatan oseanografi. Arus rip, temperatur air, salinitas dan kecerahan pada daerah penangkapan ikan di lepas pantai seperti halnya temperatur air pada lapisan pertengahan dan lapisan bawah adalah faktor yang sangat penting untuk tujuan operasi penangkapan ikan. Sebagai contoh, pengenalan detektor akustik untuk penangkapan ikan telah membawa revolusi operasi penangkapan ikan. Pengembangan dari echo sounder juga telah memperjelas keadaan dasar laut yang mana dahulu tidak diketahui nelayan. Sebagai hasil, ruang lingkup penangkapan ikan, yang mana dahulu dioperasikan dengan hanya melihat gerombolan ikan pada bagian atas permukaan air, sekarang telah dikembangkan untuk menjadi lebih vertikal dan pada waktu yang bersamaan tipe yang lebih efektif dari usaha perikanan.

Sumberdaya perikanan di daerah perairan yang sangat luas nampak seperti tidak akan ada habis-habisnya pada pengamatan pertama. Tapi jika hal tersebut diabaikan ke exploitasi yang bersifat agresif dengan mekanisasi terbaru operasi penangkapan yang tanpa menghiraukan ketentuan konservasi dalam mengambil sumberdaya, maka seluruh daerah penangkapan ikan akan mengalami kerusakan. Lagipula, dan tidak adanya larangan menangkap ikan yang memijah dan anak ikan atau ikan muda akan menghancurkan stok persediaan diri mereka sendiri. Oleh karena itu, ketentuan pencegahan yang melawan penangkapan ikan secara berlebihan pada tingkat nasional dan tingkat internasional tentu saja merupakan hal yang penting demi pemeliharaan dan penjagaan daerah penangkapan ikan secara luas. Inilah alasannya mengapa berbagai konvensi internasional dan hukum nasional telah ditetapkan di seluruh dunia.

Dalam rangka meningkatkan jumlah yang optimal, pemanfaatan sumberdaya perikanan, oleh karena itu, studi dan riset harus diintensifkan sepanjang batas pengembangan daerah penangkapan ikan pada satu sisi dan pemeliharaan dan penjagaan mereka pada sisinya

sumber: RUSTADI

silahkan dilihat dulu baru di download




METODE PENANGKAPAN IKAN SEHUBUNGAN DENGAN ALAT TANGKAP

METODE PENANGKAPAN IKAN SEHUBUNGAN DENGAN ALAT TANGKAP


METODE PENANGKAPAN IKAN SEHUBUNGAN DENGAN ALAT TANGKAP
1.  Pancing
          Prinsip pancing ialah melekatkan umpan pada mata kail, lalu kail diberi tali; setelah umpan dimakan ikan, mata kail akan juga termakan dan dengan tali manusia menarik ikan ke darat/perahu.
          Beberapa segi positif perikanan pancing :
a.    Struktur dan operasi penangkapan mudah dilaksanakan
b.    Organisasi usaha kecil, dengan modal sedikit, usaha sudah dapat berjalan
c.    Syarat daerah penangkapan ikan relatif sedikit dan dapat dengan mudah di pilih
d.    Pengaruh cuaca relatif sedikit
e.    Ikan yang tertangkap seekor demi seekor sehingga kesegarannya terjamin
Beberapa segi negatif perikanan pancing :
1)   Dibandingkan dengan perikanan jaring, jumlah hasil sedikit dalam waktu yang singkat
2)   Memerlukan umpan yang akan berpengaruh terhadap operasi penangkapan
3)   Keahlian perorangan nelayan sangatlah menonjol
4)   Bersifat pasif, artinya menunggu ikan memakan umpan dahulu baru ikan tertangkap
Untuk dapat meningkatkan jumlah hasil tangkapan pancing tanpa merubah dengan alat tangkap lain, adalah sebagai berikut :
1)   Menambah satuan pancing
2)   Menambah jumlah perahu
3)   Menambah mata kail per satuan pancing
4)   Mencari lokasi penangkapan yang baru dengan armada semut.
Jenis-jenis pancing dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1)   Pancing tangan (hand line)
2)   Pancing tonda (troll line)
3)   Huhate (skipjack pole and line)
4)   Rawai dasar tetap (set bottom long line)
5)   Rawai tegak (vertical long line)
6)   Rawai tuna (tuna long line)

1.1.  Pancing Tangan (Hand Line)
          Metode fishing line yang paling sederhana adalah hand line yang arti harfiahnya adalah memancing dengan tali yang dipegang tangan. Pancing tangan (hand line) adalah salah satu jenis alat penangkapan ikan yang sudah lama dikenal nelayan.  Menurut Vont Brant (1962), pancing termasuk “fishing with line” yang dilengkapi dengan mata kail.
Memancing dilakukan dengan cara menangkap ikan dengan menggnakan kail, atas dasar satu ikan satu kail.  Prinsip penggunaan pancing adalah dengan melekatkan umpan pada mata pancing, lalu pancing diberi bertali; setelah umpan dimakan maka mata pancing akan juga termakan dan dengan tali manusia menarik ikan itu ke perahu/darat (Ayodhyoa, 1975). 

 

Tabel.   Contoh spesifikasi alat pancing

Jenis Pancing
Bagian tali
Data Bahan Pancing
Material
Diameter (mm)
Panjang (m)
Selar



Ikan dasar
Pengantar
Utama
Cabang

Pengantar
Utama
Cabang
PA Mono
PA Mono
PA Mono

PA Mono
PA Mono
PA Mono
0,8
0,3
0,2

1,5
1,2
1,0
50,00 –  100,00
14,5 –  29,50
0,15

100,00  -  200,00
50,00
1,00
Jenis Pancing
Bagian Alat
Data mata pancing, pemberat dan tali

Material
Ukuran (No)
Jumlah (bh)
Berat (gr)
Selar


Ikan dasar
Mata Pancing
Pemberat

Mata Pancing
Pemberat
SSt
Pb

SSt
Pb
20


12 - 7
10    -  25
1

1      -  2
1

100 - 300


300 - 400



1.2.  Pancing Tonda (Troll Line/Trolling)
          Alat penangkapan ini dikembangkan mulai tahun 1965 di Hawai, yang merupakan modifikasi dari berbagai jenis tonda yang sederhana.  Umpan buatan terbuat dari bahan plastik berwarna-warni :  merah, putih, kuning dan ungu dan dibungkus disamping itu ada juga yang menggunakan bulu-bulu ayam, mata kail terbuat dari bahan yang mengkilat.
          Hasil penelitian alat ini sangat efektif untuk menangkap ikan-ikan pelagis yang senang bergerombol dan rakus, seperti jenis-jenis tuna dan cakalang.
Alat utama penangkapan ikan dengan trolling adalah : tali pancing, karet pencegah tarikan, swivel (kili-kili), tali cabang dan mata pancing



Tabel . Contoh spesifikasi pancing tonda
Bagian
Bahan
Diameter (mm)
Panjang (m)
Jumlah (bh)
Outrigger
Tali utama  1
                 2
Depressor 3
Swivel
Hook
Bambu
Nylon
Nylon
Kayu
Pb
Sst

0,9
0,73
242,00
No. 4 ;  5
No. 15
6
19,50
9,00
1



2
2

Perahu berukuran 3 – 5 ton bahan fbre glass dengan panjang 10 – 12 meter dengan kecepatan 7 – 10 knot saat operasi penangkapan


Gambar 1. Sketsa pancing tonda (troll line) dan alat bantu mekaniknya


1.3.  Huhate (Pole and line)
          Alat tangkap Pole and line terdiri dari 3 bagian besar yaitu : tangkai, tali dan mata pancing.  Tangkai yang terbuat dari bambu mampunyai syarat-syarat sebagai berikut :
(1)Bambu mampunyai ruas yang pendek dan rongga dalam tidak terlalu besar (hampir padat)
(2)Tidak mudah patah, pada bagian ujung agak melengkung dan mempunyai daya lentur yang baik.
(3)Bambunya cukup tua dan tidak rusak.
Dewasa ini, tangkai pada pole and line telah diganti dengan menggunakan bahan dari fibreglass, sehingga lebih kuat, ringan dan lentur.



Gambar 2. Sketsa pancing joran


          Operasi penangkapan pada skipjack pole and line diawali dengan mempersiapkan segala keperluan (BBM, perbekalan, dan sebagainya).  Kapal skipjack kemudian berlayar menuju daerah penangkapan ikan umpan.  Umpan hidup yang sangat diperlukan untuk menangkap ikan cakalang dengan pole and line dapat diperoleh dengan cara menangkap sendiri menggunakan “boo uke ami” atau membeli dari nelayan yang menangkapnya menggunakan bagan apung.  Ikan-ikan umpan hidup tersebut kemudian dimasukan ke dalam palkah ikan umpan dan skipjack pole and line siap berangkat menuju daerah penangkapan ikan cakalang.
          Ikan umpan yang baik adalah ikan dan jenis yang mempunyai sifat sebagai berikut:
1)   Disukai oleh ikan cakalang,
2)   Bila dilempar dari kapal penangkap, terus berenang cepat mendekati kapal serta tetap pada permukaan laut di sekitar kapal,
3)   Tahan hidup selama mungkin dalam keadaan berdesak-desakan serta tetap aktif dalam bak umpan,
4)   Ukuran dari ikan umpan tersebut cocok dengan kemauan ikan cakalang (antara 3 cm sampai 15 cm),
5)   Warna ikan terang/putih keperak-perakan serta mengkilap bila kena cahaya matahari,
6)   Mudah didapat dalam jumlah banyak
          Di daerah penangkapan ikan cakalang, nelayan menemukan gerombolan cakalang umumnya dengan petunjuk; misalnya burung-burung yang menukik-nukik menyambar di permukaan laut, ikan beruaya bersama-sama dengan kayu-kayu hanyut, bersama-sama ikan paus dan ikan lumba-lumba, dan lain sebagainya.  Bila menemukan gerombolan ikan cakalang, maka nakoda mengusahakan agar:
·         Gerombolan ikan cakalang berada diantara matahari dan kapal,
·         Mendekati gerombolan ikan cakalang dari arah datangnya angin, artinya melawan angin,
·         Kapal memotong arah jalan yang dituju oleh gerombolan ikan.




1.4.  Rawai (Long Line)
a. Rawai dasar (bottom long line)
Rawai dasar (bottom long line), ditempatkan di dekat dasar terdiri dari tali utama yang kadang-kadang cukup panjang serta tali cabang dengan jarak tertentu atau berdekatan.



Gambar 3. Sketsa rawai dasar (bottom long line)

b. Rawai hanyut/permukaan (drift/surface long line)
Rawai hanyut/permukaan dioperasikan di permukaan atau pada kedalaman tertentu dari permukaan dengan bantuan pelampung yang diatur jaraknya.  Alat tangkap ini dapat sangat panjang dan tali cabangnya biasanya lebih panjang dan lebih besar jaraknya dibandingkan dengan rawai dasar.


Gambar 4.  Sketsa rawai hanyut/permukaan (drift/surface long line)
dan rawai tegak (vertical long line)

c. Rawai tuna (tuna long line)
Operasi penangkapan rawai tuna (tuna long line) menggunakan umpan ikan yang telah mati, tetapi dalam keadaan segar dan utuh, untuk mempertahankan kondisi umpan yang demikian, maka ikan tersebut disimpan dalam palkah pendingin ataudi  es.  Jenis-jenis ikan umpan yang digunakan pada rawai tuna, antara lain: Layang (Decapterus sp), Kembung (Rastrelliger sp), Bandeng (Chanos chanos), Belanak (Mugilidae), Ikan terbang (Cypsilurus sp), Lemuru (Sardinella longiceps) dan Tembang (Sardinella fimbriata).
          Panjang umpan yang digunakan berkisar 15–25 cm, dan cara pemasangannya adalah dengan mengikatkan mata pancing tepat pada bagian sirip dada/pada bagian mata (lihat Gambar 5.).

 



Gambar 5.  Cara pemasangan ikan umpan pada mata pancing

          Sebelum memulai operasi penangkapan, terlebih dahulu semua peralatan disusun rapi di bagian buritan kapal dengan rincian sebagai berikut:
7)   Menempatkan basket-basket, bak umpan dan pelampung pada posisi yang memudahkan pengambilan.
8)   Memasang pelampung pada tali pelampung yang sudah terangkai dengan tali utama pada basket pertama (rangkaian ini berurutan pada setiap basket).
9)   Menyambung ujung akhir dari tali utama pada basket pertama dengan ujung tali utama pada basket berikutnya, dan dipasang tali pelampung serta pelampung (demikian seterusnya sampai basket yang terakhir).





Gambar 6.  Sketsa rawai tuna (tuna long line)

Setelah persiapan selesai, dan alat sudah siap untuk dipasang, maka pemasangan alat (setting) dapat segera dilakukan sesuai dengan urutan berikut ini:
1)   Penerjunan perangkat pelampung (pelampung dan tali pelampung) yang telah terangkai dengan basket pertama.
2)   Tali utama tetap diulur oleh petugas khusus, dan petugas pelempar tali cabang siap memasang umpan pada pancing.
3)   Dilanjutkan dengan pemasangan dan pelemparan rangkaian tali cabang yang telah berisi umpan.
4)   Pekerjaan (2) dan (3) dilakukan sampai pada ujung akhir dari tali utama suatu basket, kemudian, kembali dilakukan pelemparan perangkat pelampung untuk basket berikutnya sampai terakhir (lihat Gambar 7.).


Gambar 7.  Sketsa posisi ABK pada saat penawuran (setting) rawai tuna



Gambar 8.  Sketsa posisi ABK pada saat penarikan (hauling) rawai tuna

          Penarikan alat (hauling) dapat dilakukan setelah alat direndam selama 3-4 jam, diawali dari pelampung pertama dilepas, atau yang terakhir.  Penarikan alat dapat dilakukan sesuai dengan urutan berikut:
1)   Penambilan perangkat pelampung dan menariknya ke atas kapal, hal ini dapat dilakukan secara manual dengan tangan atau line hauler.
2)   Melepas rangkaian tali pelampung dan tali utama, dan kapal tetap melaju menyusur/searah dengan tali utama sambil tetap menarik dan menggulungnya, serta menempatkannya pada basket yang tersedia (dalam unit basket).
3)   Pada saat tali cabang sudah naik, rangkaiannya dapat segera dilepas (untuk yang menggunakan peniti rawai/snapper) dan yang menggunakan simpul dapat digulung menjadi satu dalam unit basket.
4)   Apabila ada hasil tangkapan, maka secepatnya dinaikan ke atas kapal dengan bantuan “ganco” (pengait). Perlu diperhatikan bahwa untuk produk tuna segar, hanya bagian kepala saja yang boleh luka, sebab luka pada badan akan tidak memenuhi syarat produk segar (lihat Gambar 8).

2.  Bubu (Trap Net)
          Metode penangkapan yang diterapkan untuk semua jenis bubu (trap net) pada umumnya sama, yaitu dipasang di daerah penangkapan yang sudah diketahui menjadi habitat target tangkapan (ikan dasar, kepiting, udang, gurita, dan sebagainya yang bisa ditangkap dengan bubu).  Pemasangan bubu ada yang dipasang satu demi satu (pemasangan sistem tunggal), ada juga yang dipasang secara beruntai (pemasangan sistem rawai).  Waktu pemasangan setting dan pengangkatan hauling dilakukan pada waktu pagi hari, siang hari, sore hari, sebelum matahari terbenam atau malam hari tergantung dari nelayan yang mengoperasikannya.  Lama perendaman buubu di perairan ada yang hanya direndam beberapa jam, ada yang direndam satu malam, ada juga yang direndam sampai 3 hari 3 malam dan bahkan ada yang direndam sampai 7 hari 7 malam.



Gambar 9.  Sketsa bubu (trap net)

Alat tangkap bubu sifatnya pasif sehingga dibutuhkan pemikat atau umpan agar ikan yang kan dijadikan target tangkapan mau memasuki bubu.  Jenis umpan yang dipakai sangat beraneka ragam, ada yang memakai umpan hidup, potongan ikan, atau jenis umpan lainnya.  Penempatan umpan di dalam bubu pada umumnya diletakan di tengah-tengah bubu, baik di bagian bawah, tengah atau di bagian atas dari bubu dengan cara diikat atau digantungkan dengan atau tanpa pembungkus umpan.
          Bubu jaring (fyke net) biasanya dipakai di perairan dangkal, terdiri dari kantong bulat atau kerucut yang dibentuk memakai rangka bulat atau rangka lainnya dan ditutup dengan jaring.  Alat ini dilengkapi dengan sayap atau penajur yang berfungsi menggiring ikan ke arah kantongnya.  Bubu jaring dipasang didasar perairan memakai jangkar, pemberat atau patok dan dapat dipergunakan satu per satu atau bergandengan beberapa buah.



Gambar 10.  Sketsa bubu jaring (fyke net)


          Bubu tiang (stow net) biasanya hanya dipakai disungai, muara sungai dan daerah berarus kuat.  Biasanya berbentuk kerucut atau piramid dan dipasang dengan bantuan jangkar atau patok menghadang arus.  Mulutnya terbuka dengan bantuan rangka atau tali temali.



Gambar 11.  Sketsa bubu tiang (stow net)




Hiburan dulu biar fresh

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia

Broker Kripto

Tempo Doeloe

Olahan Makanan

Ulasan Film

Keimanan dan Keyakinan

Top Bisnis Online

Tips dan Trik